Mari Mengingat Mati Sejenak

Sebelumnya, izinkan saya menukilkan beberapa hadits,

“Cukuplah maut sebagai pelajaran (guru) dan keyakinan sebagai kekayaan.” (HR Ath-Thabrani)

“Mati mendadak sutau kesenangan bagi seorang mukmin dan penyesalan bagi orang durhaka.” (HR Ahmad)

Saudaraku, tulisan ini pertama-tama adalah pengingat buat saya pribadi, kemudian untuk yang lainnya.

Maut, adalah suatu hal yang pasti akan terjadi pada makhluk yang bernyawa. Sebagaimana firman Allah;

“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” Q.S Ali Imran ayat 185

Ya. Kita pasti akan mati! Tetapi, dalam kondisi apakah kita akan mati? Semoga kita mati dalam keadaan khusnul khotimah (akhir yang baik).

Sekitar sebual yang lau, tetangga saya ada yang meninggal (Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu). Yang menjadi perhatian saya (juga tetangga sekitar) adalah perilaku si Fulan beberapa hari menjelang kematiaanya. Suatu hari, ia datang ke rumah saya untuk ditunjukkan kepadanya, letak surat Al Waqi’ah dalam mushaf Al Qur’an. Setelah saya tunjukkan, ia mencoba untuk memastikan, apakah sudah benar belum. Ia menyuruh saya membacakan awal ayatnya, ia juga menyuruh saya menuliskan ayat awal dalam bahasa latinnya, “Agar tidak lupa” katanya.

Pada hari yang lain, ia datang ke rumah saya lagi. Meminta tolong untuk diajari beberapa tajwid; bagaimanakah bacaan yang mati itu, kalau ada tasydid/syaddah bagaimana membacanya, dll. ketika pulang ia meminta maaf,

“Nyuwun ngapuro yo mas, wes ngganggu wektumu olehmu siniau.” (Mohon maaf ya mas, sudah mengganggu waktu belajarmu).

Tatkala ia menuju pulang dari rumah saya, ia ditanya tetangga;

“Saking pundi Dhe?” (Dari mana Om?)

“Seko nggone mas duwi, tak kon ngajari ngaji. Mengko yen sawektu-wektu dipanggil wes siap.” (Dari rumah mas duwi, nanti sewaktu-waktu jika dipanggil-menghadap Allah-mati-, sudah siap)

Dalam beberapa hari menjelang kematiaany, ia juga rajin ke masjid. Di masjid ia meminta banyak nasihat kepada Pakdhe saya (yang menjadi imam shalat). Padahal untuk berjalan kaki saja, sangat pelan dan memerlukan tenaga ekstra, karena habis terkena serakan stroke.

Hingga suatu malam, selepas pulang dari masjid untuk shalat Isya’, ia meminta kepada istrinya untuk menggelarkan tikar karena Pakdhe saya tadi akan datnag untuk mengajari ngaji. Akan tetepi, saat selesai makan (habis isya’ itu), ia terjatuh dari kursi. Dan pada pukul 4.00 keesokan harinya, ia meninggal.

MaasyaaLlah… Bagi saya itu dalah suatu hal yang luar biasa sebelum kematian datang menjemput. Semoga ia khusnul khotimah, dialpangkan kuburnya, dan masuk surga.

Saudaraku, lalu bagaimanakah kita nanti? Dalam keadaaan apa kita akan mati? Apakah dalam keadaan sedang melakukan ketaatan kepada Allah, ataukah dalam keadaan sedang bermaksiat kepada-Nya?

Sungguh benar, “Cukuplah maut sebagai pelajaran..”

Maut, adalah misteri Ilahi, kapan ia akan datang pada kita. Kita tidak dapat menghindar darinya jika waktunya sudah tiba, meskipun kita bersembunyi di belakang dinding yang kokoh. Jadi, anggaplah setiap hela nafas kita adalah masa terakhir kita di dunia. Dengan demikian, kita akan berpikir panjang ketika akan melaksanakan kemaksiatan; meninggalkan shalat, meminum khamr/minuman keras, ataupun bentuk kemaksiatan lainnya. Semoga kita dimatiakn Allah dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.

“Yang terpenting adalah kapan kita akan mati. Tetapi yang terpenting adalah; sudah cukupkah bekal kita jika kita mati!”

Semoga bermanfaat bagi semua. Ingatkanlah bila tersalah.

@duwisusilo

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s