Bicara Kata


Saudaraku, pada kali ini izinkan saya tuk berbagi renungan tentang menjaga lisan. Sebelumnya, saya nukilkan sebuah hadits berikut;

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau – kalau tidak dapat berkata yang baik, hendaklah ia berdiam diri saja.” (Muttafaq ‘alaih)

Saudaraku, tentunya kita semua suka berkata-kata, termasuk bercanda dengan kawan-kawan kita, (terlebih saya). Akan tetapi, selama ini, apakah apa-apa yang kita ucapkan mengandung unsur-unsur kebaikan? Ataukah apa-apa yang kita ucapkan malah mengandung unsur-unsur kemaksiatan, termasuk kata-kata yang dimurkai Allah? (na’udzubillah)

Allah Ta’ala telah berfirman dalam Kitab-Nya;

“ tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” QS. Qaaf [50] : 18

Adalah sebuah kata, sering terdengar di kalangan kita, kata-kata kotor ataupun kata-kata kasar. (Semoga Allah menjauhkan kita dari berkata-kata seperti itu). Kata-kata itu di dalam bahasa Jawa disebut “misuh” (berkata-kata kotor). Sungguh, jika, dan hanya jika, “misuh” itu perkara yang baik, tentunya akan mendapatkan pahala keridhoan Allah, juga pahal yang berlipat karena banyaknya yang mengikuti berkata-kata seperti itu. Akan tetapi, apakah “misuh” itu perkara yang baik dan berpahala?

Marilah kita renungkan hadits berikut; Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,

“Sungguh, adakalanya seseorang mengeluarkan kata-kata yang tidak dipikirkannya terlebih dahulu apakah baik atau tidak, lalu menyebabkannya tergelincir ke neraka yang kedalamannya lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.”

“Sungguh,” sabda Rasulullah saw dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, “adakalanya seseorang mengeluarkan kata-kata yang Allah ridhoi, yang tidak ia hiraukan sebelumnya (apakah baik atau tidak), sehingga Allah pun lalau meninggikan derajatnya. Sungguh,”lanjut Rasulullah saw, “adakalanya seseorang mengeluarkan kata-kata yang Allah murkai, yang tidak ia hiraukan sebelumnya (apakah baik atau tidak), sehingga Allah pun lalu memasukkannya ke neraka Jahannam.”

Jika kita masuk ke dalam jejarin sosial, seperti “facebook”, mungkinn di antara kita pernah ada yang membaca kata-kata kotor “friend” kita melalui “status”nya. Menurut saya, adalah sama; antara berbicara di dalam sehari-hari dengan menulis status di facebook.

Maka, “Menulislah status facebook dengan kata-kata yang baik, atau jika tidak bisa menulis status dengan kata-kata yang baik, hendaknay tidak usah menulis status.”

Sebagai penutup, mari renungkan hadits berikut;
Dari Sahl bin Sa’ad r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikannya apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya – yakni mulut – serta antara kedua kakinya – yakni kemaluannya, maka saya memberikan jaminan syurga untuknya.” (Muttafaq ‘alaih)

Status facebook yang beupa tulisan hikmah, ayat Qur’an, hadits, atau semacamnya; SUNGGUH mampu menginspirasi orang lain tuk berkebajikan, termasuk MAMPU menyurutkan niat maksiat para pembaca status itu-tentunya atas izin Allah.
Maka ingatlah duhai diri, akan hal itu.

Ingatkan bila tersalah.

@duwisusilo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s