Dilema Penempatan

stan.ac.id

Setahun Wisuda STAN

Hari ini, tanggal 12 Oktober 2012, setahun kami – STANers2008 – diwisuda. Dan kemarin, tanggal 10 Oktober 2012, adik kelas kami juga diwisuda. Biasanya, sebagaimana lulusan STAN tahun-tahun sebelumnya, setelah wisuuda akan disibukkan dengan pemberkasan. Dan Alhamdulillah, bulan kemarin kami pun sudah melaksanakan pemberkasan tersebut.

Bicara lulus STAN, tak kan lepas dari bab penempatan. Lulusan STAN harus bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Dan semua lulusan STAN, sangat mengharapkan ditempatkan di daerah yang diinginkan. Hari ini, info terkait penempatan belum muncul sedikit pun. Teringat sebuah kalimat, “Indonesia itu luas.” Tapi ingatlah, rahmat Allah jauh lebih luas.

Google Image

Saya sendiri, sangat mengharapkan ditempatkan di tempat yang terbaik – yang Allah berkahi, yang Allah ridhoi untuk saya, dan Allah memberikan  saya kesiapan untuk menempati tempat  terbaik yang Allah berkahi itu. Lalu, bagaimana untuk mendapatkannya. Doa! Ya, dengan berdoa (dan melakukan kebaikan sebanyak mungkin). Jika ada hal lain yang bisa dilakukan, silakan teman-teman memberi  masukan.

Tersebut di dalam Al Qur’an, do’a yang sangat indah;

“dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah Sebaik-baik yang memberi tempat.” [QS. Al Mu’minun:29]

Lalu, di manakah saya nanti ditempatkan? Allahu Ta’ala a’lam. Biarlah nanti terjawab seiring berjalannya waktu.

Penempatan Akhirat

Bicara penempatan, penempatan di akhirat nanti tak kalah pentingnya bagi saya, kamu dan kita semua. Hanya ada dua tempat di akhirat sana, surga dan neraka. Antara keduanya, manakah yang kita pilih? Tentu jika semua orang ditanya, akan memilih surge untuk penempatan akhiratnya.

Yang jauh lebih penting, adalah sejauh mana kita berusaha agar Allah menempatkan kita di surga-Nya. Adakah usaha kita selama ini sudah bersungguh-sungguh atau hanya main-main belaka? Jangan tersinggung jika saya menyebut main-main. Bagaimana tidak disebut main-main jika sholat saja masih malas-malasan (apalagi sholat berjamaah di masjid), maksiat masih jadi rutinitas, lidah masih tak dijaga, akhlak masih jauh dari tuntunan syari’at.

Apakah kita ‘meniatkan diri’ untuk mampir ‘sebentar’ di neraka? Na’udubillah. Seringan-ringannya siksa neraka, adalah kaki menapak sandal neraka, mala otak di kepala ikut mendidih. (Ya Robb, jauhkan kami dari siksa api neraka). Sehari di akhirat pun setara dengan seribu tahun di akhirat.

“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” [QS. Al Hajj : 47]

Yang jelas, kita tak akan sanggup singgah sejenak di akhirat meski hanay sebentar.

Mari jadikan renungan sejenak.

***

Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat.

Ingatkan bila tersalah.

@duwisusilo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s